MOVIE & TV

Solo, Satu Lagi Keluarga Star Wars yang Bermasalah

By : Al Dabaran | May 23, 2018

Film anthology kedua dari franchise Star Wars tayang mulai hari ini di Indonesia. Secara visual memang tidak terlalu istimewa, tapi dari segi cerita tetap bisa memberikan “pengayaan batin” bagi penggemar Star Wars. Jika dilihat dari proses produksinya, “Solo: A Star Wars Story” memang sudah bermasalah. Apakah itu penyebabnya?

Proses shooting Solo dijadwalkan berlangsung pada Februari hingga Juli 2017. Di bulan Juni, jadwal shooting mulai terlihat berantakan, bahkan diperkirakan tidak akan selesai juga hingga Agustus 2017. Saat itu, Solo dikerjakan oleh duet Sutradara Phil Lord dan Christopher Miller yang sebelumnya mengerjakan “21 Jump Street” (2012) dan “The Lego Movie” (2014).

Donald Glover, pemeran Lando mengatakan ada miskomunikasi di bidang artistik, dimana ide-ide dari Lord & Miller banyak ditentang oleh Produser Kathleen Kennedy. Lord & Miller dianggap terlalu banyak bereksperimen untuk menampilkan sosok Han Solo yang ekstentrik, unik, segar, mengejutkan, dan emosional, dengan mengorbankan unsur Star Wars yang sudah banyak dikenal fans. Akhirnya Kennedy memecat Lord & Miller, merekrut Sutradara Ron Howard, dan me-reshoot 85% kerja mereka, hingga memperpanjang jadwal shooting sampai 17 Oktober 2017.

Michael K. Williams, Paul Bettany, & Ron Howard.

Dengan perpanjangan ini, Solo harus kehilangan aktor Michael K. Williams, yang harusnya menjadi penjahat di film ini. Ia digantikan oleh Paul Bettany, pemeran Vision di Avengers, yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Howard di “A Beautiful Mind” (2001) dan “The Da Vinci Code” (2006).

Dibawah arahan Howard, shooting berjalan lebih efektif, bahkan 50% lebih cepat dari apa yang sudah dilakukan oleh sutradara sebelumnya, yang kabarnya jadi sering lembur karena terlalu banyak eksperimen. Dengan hasil akhir 70% dibawah arahan Howard, ia berhak atas title Sutradara sepenuhnya dari film ini. Hasil karya Lord & Miller tetap diakui, tapi posisinya digeser ke Produser Eksekutif.

Joonas Suotamo, Woody Harrelson, Donald Glover, Ron Howard, Emilia Clarke dan Alden Ehrenreich di kokpit Millenium Falcon.

Para aktor, termasuk pemeran Solo, Alden Ehrenreich (28), sempat merasa bingung dengan banyaknya perubahan yang dilakukan, termasuk oleh sutradara sebelumnya, bahkan merasa tertekan. “Saya berusaha memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk mengatasi tekanan. Tekanan itu selalu ada dalam setiap film, tapi yang ini benar-benar intensif,” terangnya pada Variety.

Hasil reshoot dan jadwal ketat inilah yang akhirnya bisa kita lihat mulai hari ini di bioskop. Jadi bisa dimaklumi kalau hasilnya memang tidak semegah film-film Star Wars lainnya.

Tapi, Solo bukan satu-satunya film Star Wars yang bermasalah lho. Karena sebelumnya, film “Boba Fett” yang dijadwalkan rilis di tahun 2015, juga masih belum ada kejelasan sejak ditinggalkan Sutradara Josh Trank. Begitu juga dengan masuknya Sutradara Tony Gilroy, menggantikan Gareth Edwards yang dianggap gagal mengerjakan “Rogue One: A Star Wars Story” di 2016. Bahkan untuk “Episode IX” (2019), Sutradara Colin Trevorrow mundur karena tidak cocok dengan naskahnya, hingga membuat Produser J.J. Abrams turun gunung menjadi Sutradara.

Semoga saja “Episode IX” bisa mengembalikan hype Star Wars Saga ke puncak lagi ya. Tapi, bukan berarti Solo ini jadi film yang tidak menarik. Karena baik Han Solo, Lando Calrissian, dan Qi’Ra tetap merupakan karakter unik yang berpeluang muncul di film anthology berikutnya. Entah itu “Kenobi” atau “Lando”… Kisah awal siapa yang ingin kamu lihat selanjutnya?

Copyright 2018 © Popcon Asia
Show Buttons
Hide Buttons