CREATOR OF THE WEEK

The Russo Brothers: Infinity War itu Film Klasik Tentang Perampok Bernama Thanos dari Komik Starlin

By : Al Dabaran | April 14, 2018

Film MCU “Avengers: Infinity War” akan tayang perdana di seluruh dunia mulai 27 April 2018, tapi penjualan tiketnya sudah laris manis dari jauh hari, bahkan melampaui penjualan pre-sales 7 film Marvel sebelumnya. Maka tidak salah kalau pada hari pertama penayangannya nanti, film ini akan menjadi film terlaris berikutnya dengam pemasukan 200 juta Dollar Amerika dari penjualan tiketnya saja di minggu pertama.

Dibalik larisnya film-film MCU, ada 2 bersaudara Joe & Anthony Russo yang sudah mengerjakan film-film Marvel sejak “Captain America: The Winter Soldier” (2014). Setelah itu, mereka berdua dipercaya untuk menangani “Captain America: Civil War” (2016), “Avengers: Infinity War”, dan satu lagi film Avengers yang akan tayang tahun depan.

Bagaimana mereka membedakan film Captain America dengan Avengers? Apa saja kesulitannya dalam menghadirkan puluhan karakter sekaligus dalam sebuah film super hero? Simak wawancara dengan The Russo Brothers seperti yang dilansir dari CNet & Collider.

#CREATORofTHEWEEK

[POP] Apa yang berbeda dari menyutradarai Infinity War dengan dua film Captain America sebelumnya?

Anthony: Sebetulnya tidak banyak berbeda, karena film-film Captain Amerika juga sudah menghadirkan banyak karakter. Kami juga sudah terbiasa mengerjakan film dengan banyak karakter. Kami menyukai ide dimana bisa menceritakan sebuah cerita yang melibatkan banyak karakter, dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Kalau diibaratkan, masing-masing karakter ini memiliki lapisan cerita yang berbeda-beda, sampai akhirnya menjadi tumpukan alur cerita yang tebal. Ini akan jadi cerita yang menarik, karena saat kamu melihatnya, kamu bisa merasakan adanya perbedaan sudut pandang dari masing-masing karakter.

Joe: Semua karakter yang ada di Infinity War ini berasal dari film-film yang sukses dengan ceritanya masing-masing, juga dengan sejarah masing-masing mereka yang emosional, dan kami harus bisa meletakkannya semua dalam satu film, dengan gaya yang berbeda, juga musik yang berbeda. Rasanya benar-benar menakjubkan. Kami seperti ilmuwan gila. Bekerjasama dengan penulis naskah (Christopher Markus dan Stephen McFeely), kami berusaha mengawinkan semua gaya itu, sangat tidak mudah.

Anthony: Kami juga dekat dengan sutradara-sutradara lainnya, mulai dari James Gunn (GOTG), Peyton (Ant-Man), Scott (Dr. Strange), juga Ryan (Black Panther). Karena selain timeline yang berdekatan dengan masa produksi mereka, kami juga banyak komunikasi apakah adegan-adegan tertentu akan berdampak pada film mereka, atau sebaliknya.

Joe: Untuk film-film yang sudah tayang tidak ada kendala. Tapi saat kami memulai proyek ini, Thor: Ragnarok masih belum selesai, Black Panther juga, begitu juga dengan Ant-Man & The Wasp, makanya komunikasi jadi hal penting.

[POP] Bagaimana dengan Sutradara Captain Marvel?

Anthony: Nah, yang itu belum. Tapi Carol Danvers (Captain Marvel) jelas akan ada di sini.

[POP] Bagaimana cara kalian mengeksekusi banyak karakter sekaligus dalam satu adegan?

Joe: Terkadang kesulitannya itu bukan dalam mengeksekusi adegan laga dengan banyak karakter, tapi untuk dialog yang penting tapi melibatkan banyak karakter juga jadi hal yang menantang..

Anthony: Dan mereka semua bintang-bintang besar.

Joe: Benar, kita harus mengambil gambar mereka semua, karena mereka spesial. Tidak karena karakternya yang spesial, tapi juga bagian penting dari cerita.

Anthony: Mereka juga karakter favoritnya banyak orang di luar sana.

Joe: Pada dasaranya film ini bisa terjadi berkat tim besar yang selama ini sudah bekerja keras membangun ini semua. Kita punya tim yang kuat, kita melakukan persiapan berbulan-bulan. Dan yang saya suka di Marvel ini kita diberikan kesempatan, baik dari sisi teknologi, juga budget untuk membuat dummy, preview, story board, editing, semuanya. Kita juga banyak melakukan eksperimen sebelumnya dan itu sangat membantu, sebelum akhirnya mengeksekusi banyak karakter sekaligus. Ada banyak persiapan panjangnya.

[POP] Waktu di Civil War, kalian yang memaksa agar Spider-Man harus masuk. Bagaimana dengan di sini, siapa yang kalian paksa untuk masuk?

Anthony: Semuanya! Haha, semua karakter yang ada di sini tidak mudah memasukannya. Butuh deal-deal yang berat, karena semuanya “mahal”. Memang cukup kompleks dalam membuat film dengan skala seperti ini. Lebih mudah menolak suatu karakter daripada memasukkannya.

Joe: Beruntung kita punya Kevin Feige (Produser & Presiden Marvel Studios) yang  ada dasaranya film ini bisa terjadi berkat tim besar yang selama ini sudah bekerja keras membangun ini semua.

[POP] Setelah mengerjakan MCU hampir 10 tahun, bagaimana cara kalian membuat adegan pertarungan yang fresh dan meyakinkan?

Joe: Saya membayangkan diri saya sebagai karakter itu dan memikirkan adegan seperti apa yang akan mengejutkan penonton. Kami juga sering berada di lokasi shooting untuk mencari inspirasi. Kami selalu tertantang untuk menghadirkan sesuatu yang baru, tidak hanya dari adegan dan sudut pengambilan gambar, tapi juga dari alur cerita yang membuat setiap karakter memiliki porsi aksi yang memuaskan.

Anthony: Itu jadi cara yang terbaik untuk mendapatkan sesuatu yang orisinil dalam membuat adegan aksi. Kami harus mendalami karakter itu, mencari tahu apa yang akan dia lakukan saat terdesak, dan membangun cerita seputar itu.

[POP] Kalian juga senang membuat film yang tidak biasa. Nah, apa yang tidak biasa dari Infinity War?

Anthony: Faktor utama dalam film ini adalah Thanos, ia tidak hanya kuat, tapi juga akan mendominasi cerita, nyaris setara dengan karakter utama. Kita sudah menyiapkan cerita menarik untuknya, dia akan jadi perompak yang memburu semua Infinity Stone dengan cara yang lebih brutal, dan lebih sukses dari sebelumnya. Sepanjang film kalian akan melihat bagaimana Thanos ini bisa selalu selangkah lebih maju dari para jagoan. Kami mengambil beberapa referensi dari film perampokan klasik, seperti “Two Days in The Valley” (1996) juga “Out of Sight” (1988), dan menerapkannya di sini.

[POP] Dari sekian banyak komik tentang Thanos dan Infinity Stones, mana yang menjadi referensi utama kalian?

Joe: Tentu saja versi Jim Starlin. Ceritanya bagus, latar belakangnya juga menarik untuk dibuat berskala film. Tapi kami juga melihat versi baru dan memadukannya.

[POP] Bagaimana kesannya shooting dengan menggunakan kamera IMAX untuk film ini?

Anthony: Keren!

Joe: Kameranya bagus banget, kemampuan chipnya super, benar-benar mengagumkan. Kami punya banyak karakter yang tinggi, bahkan sangat tinggi, kamera ini bisa membuatnya masuk ke dalam gambar, berkat aspect ratio dari IMAX. Begitu juga dengan gambar-gambar pemandangan yang luas, dengan mudah bisa masuk ke dalam layar. Benar-benar banyak membantu kami dalam mengeksplorasi gambar.

[POP] Bukankah kamera ini sangat besar dan berisik ya?

Anthony: Itu dulu, kamera yang kami gunakan sekarang adalah IMAX Arri 65, produk terbaru yang cocok dengan kebiasaan kami. Karena kami suka gaya yang aktif, banyak bergerak, dan tipe terbaru ini punya kemampuan itu. Sangat mobile, bahkan bisa dengan mudah digeser hingga menyentuh tanah.

[POP] Apakah akan ada karakter yang tak terduga, bisa kasih sedikit bocoran?

Joe: Tentu saja akan ada banyak karakter yang tak terduga. Akan ada lebih banyak kejutan di film ini daripada di film-film sebelumnya. Interaksi dari karakter yang sudah ada saja bisa memberikan kejutan sendiri, begitu juga dengan karakter-karakter dengan peran kecil tapi jadi spesial di film ini. Karena ini akan menjadi pengalaman yang seru, saya tidak bisa membocorkannya. Yang jelas kamu bisa melihat banyak kejutan.

Nah, semakin penasaran kan? Tunggu “Avengers: Infinity War” tayang di bioskop mulai 25 April 2018!

Sumber: CNet & Collider

Copyright 2018 © Popcon Asia
Show Buttons
Hide Buttons