ANIMATION

[REVIEW] Love Live! Sunshine!! Season 2: Pahit Manis Semangat Masa Muda

By : Rafly Nugroho | January 12, 2018

Keberadaan idol telah menjadi salah satu ikon tersendiri dalam industri musik di Jepang. Beberapa grup idol seperti AKB48 dan berbagai sister groupnya, hingga berbagai grup idol dari pelosok daerah di Jepang telah memiliki berbagai fanbase yang tersebar tidak hanya di Jepang tapi juga di seluruh dunia. Tren grup idol yang terus berkembang ini juga melahirkan sebuah tren tersendiri dalam industri animasi di Jepang, yaitu kehadiran anime bertemakan idol. Pada jadwal penayangan anime di musim gugur tahun 2017 (bulan Oktober hingga Desember) dirilis beberapa anime bertema idol, salah satunya adalah musim ke-dua dari seri anime Love Live! Sunshine!!.

Love Live! Sunshine!! sendiri adalah seri anime kedua dari bagian proyek mix media Love Live! yang diproduksi oleh studio animasi Sunrise (studio animasi yang membuat anime Gundam) dan label rekaman Lantis. Sebenarnya proyek yang menggabungkan konsep idol dengan anime ini sudah dimulai sejak tahun 2010. Pada saat itu beberapa pengisi suara ternama dipilih untuk membentuk grup idol 2D bernama µ’s (dibaca: muse) dan membuat lagu yang dirilis oleh Lantis dengan video klip animasi yang diproduksi oleh studio animasi Sunrise. Tiga tahun kemudian, proyek idol 2D ini hadir sebagai seri anime pertama yang berjudul Love Live! School Idol Project. Setelah kesuksesan dari grup idol µ’s dalam seri pertamanya, proyek ini pun berlanjut dengan menghadirkan grup idol Aqours (dibaca: Aqua) dalam seri anime kedua yang berjudul Love Live! Sunshine!!

Musim pertama dari seri anime Love Live! Sunshine!! ini tayang di tahun 2016 sepanjang 13 episode. Cerita pun dilanjutkan dengan kehadiran musim keduanya yang mulai tayang pada bulan Oktober 2017 dan berakhir dalam 13 episode. Masih sama seperti musim pertamanya, musim kedua anime ini disutradarai oleh Kazuo Sakai yang sudah cukup lama berkiprah di industri anime Jepang. Sebelum menyutradarai Love Live! Sunshine!!, Kazuo Sakai pernah terlibat menangani Key Animation dalam pengerjaan seri OVA (Original Video Animation) Gunbuster 2: Diebuster dan juga film anime Macross Frontier: Itsuwari no Utahime. Keterlibatan Kazuo Sakai dalam proyek Love Live! dimulai saat ia mengerjakan Storyboard dan Episode Director untuk episode ke-7 dari seri anime Love Live! School Idol Project.

Gunbuster 2: Diebuster

Musim kedua dari anime Love Live! Sunshine!! ini juga masih memiliki desain karakter yang ditangani oleh Yuhei Murota yang telah berpartisipasi mengerjakan desain karakter dari seri anime pertama Love Live! School Idol Project. Untuk bagian cerita, Jukki Hanada ditunjuk mengangani naskah dari cerita yang ditulis oleh Hajime Yatate.

Cerita dalam musim kedua Love Live! Sunshine!! ini melanjutkan kisah perjalanan para gadis anggota grup idol Aqours dari SMA Uranohoshi yang mengalami kegagalan dalam kompetisi Love Live! yang mereka ikuti untuk pertama kalinya. Pada awalnya, Chika Takami, siswi kelas 2 dari SMA Uranohoshi memiliki inisiatif untuk membentuk grup idol dan memenangkan Love Live!, sebuah kompetisi grup idol antar sekolah di seluruh Jepang. Hal ini ia lakukan demi menyelamatkan sekolahnya yang terancam ditutup karena peminat yang mendaftar untuk sekolah tersebut sangatlah sedikit. Chika berharap dengan membentuk grup idol, kemudian memenangkan turnamen berskala nasional, hal itu bisa meningkatkan popularitas sekolahnya dan meningkatkan minat jumlah orang yang mau mendaftar ke sekolah khusus siswi perempuan tersebut.

Tetapi rencana tidak berjalan dengan begitu mulus. Usaha Chika dan kawan-kawannya di grup idol Aqours harus kandas saat kalah di penyisihan regional dan gagal melaju ke tingkat nasional. Selagi menunggu untuk mengikuti penyisihan Love Live! berikutnya, para anggota Aqours berencana untuk membuat konser saat acara open house sekolahnya, lagi dengan alasan untuk mempromosikan sekolahnya dan selamat dari ancaman penutupan. Tetapi rencana tersebut terancam gagal karena ayah dari Mari Ohara (anggota grup Aqours kelas 3) yang memiliki kuasa atas yayasan sekolah tersebut menyatakan bahwa ia tidak bisa memberikan banyak waktu untuk melakukan open house, dan bahkan acara itu terancam dibatalkan.

Kisah lama tentang penyelamatan sekolah, dengan nuansa baru

Dari segi cerita, Love Live! Sunshine!! memang terkesan tidak inovatif karena meskipun disebut sebagai sebuah seri baru, dengan setting yang benar-benar baru, tetapi masih membawa konflik cerita yang sama seperti seri pendahulunya. Drama dan problematika mengenai sekolah yang akan ditutup, karena kekurangan peminat, dan diselamatkan dengan cara para siswi membentuk sebuah grup idol agar bisa membuat sekolahnya terkenal adalah formula yang ada di seri pertama Love Live!.

Meskipun musim pertama Love Live! Sunshine!! sangat terasa repetitifnya, tetapi di musim kedua ada berbagai hal baru yang membuat formula konflik yang repetitif menjadi sesuatu yang memiliki originalitasnya sendiri. Salah satunya adalah keterlibatan murid-murid lain dalam usaha penyelamatan sekolah Uranohoshi. Jika mengikuti seri pertama Love Live! sangat terlihat bahwa usaha penyelamatan sekolah hanya dilakukan oleh para personil µ’s saja. Tetapi di Love Live! Sunshine!!, terlihat bahwa usaha penyelamatan SMA Uranohoshi tidak hanya dilakukan oleh personil Aqours saja, siswi lain di Uranohoshi, bahkan para penduduk sekitar mendapat porsinya sendiri sebagai pihak yang membantu Aqours untuk menyelamatkan sekolah mereka.

Chika dan teman-teman tidak sendiri, semua siswi SMA Uranohoshi bekerja sama untuk menyelamatkan sekolah mereka.

Meskipun tidak memiliki spotlight banyak, tetapi keterlibatan karakter lain selain personil Aqours ini menambah hal baru di cerita dengan formula yang sama seperti seri sebelumnya. Salah satu episode yang menunjukkan adanya keterlibatan karakter lain dalam usaha penyelamatan sekolah ini adalah di episode ke 3 season 2 ini. Dalam episode ini personil Aqours sedikit kebingungan saat harus memilih apakah ikut hadir di penyisihan Love Live! atau tampil di open house sekolah karena kedua acara itu ada di hari yang sama. Akhirnya para siswi sekolah Uranohoshi memberikan bantuan agar Aqours bisa hadir di dua acara tersebut tanpa halangan, salah satunya adalah keluarga pemilik perkebunan jeruk yang meminjamkan troli milik perkebunannya untuk digunakan para personil Aqours melintasi gunung agar bisa tampil di open house sekolahnya tepat waktu.

Penyelamatan sekolah yang tidak berjalan mulus

Satu hal lain yang membuat cerita di Love Live! Sunshine!! masih memiliki sedikit perbedaan meski mengangkat formula yang sama dengan seri sebelumnya adalah bagaimana anime ini mengemas usaha penyelamatan sekolah tersebut. Berbeda dengan seri pertama di mana para anggota µ’s terlihat menemui jalan mulus meski mengalami naik turun dalam menyelamatkan SMA Otonokizaka. Hal sedikit berbeda terjadi kepada anggota Aqours di mana mereka menemui berbagai kesulitan yang berujung kepada situasi di mana mereka tidak akan bisa menyelamatkan sekolah mereka, meskipun mereka berhasil memenangkan Love Live!

Sesaat setelah mengetahui fakta bahwa SMA Uchiura akan dimerger dengan sekolah lain, inilah titik di mana seluruh anggota Aqours mulai mempertanyakan untuk apa eksistensi grup idola Aqours berada. Pada awalnya Aqours dibuat karena mereka terinpirasi dari µ’s yang berhasil menyelamatkan sekolahnya dari ancaman penutupan dengan memenangkan Love Live! Namun mereka menemui situasi lain di mana sekolah mereka sudah pasti akan ditutup meskipun berhasil memenangkan Love Live!

Fokus cerita pun mulai sedikit berubah, jika di awal penoton akan dibawakan dengan bagaimana Aqours berusaha memenangkan kompetisi untuk menyelamatkan sekolah, maka di pertengahan season 2 cerita mulai beralih kepada bagaimana para anggota Aqours dan teman-teman sekolahnya berusaha membuat kenangan bersama untuk terakhir kalinya di sekolah itu. Sempat kehilangan semangat untuk melanjutkan kompetisi Love Live!, para personil Aqours ini mendapat semangat saat para siswi lain di SMA Uranohoshi memberikan jawaban atas pertanyaan eksistensial mereka mengenai keberadaan Aqours.

“Kalau begitu, selamatkan saja sekolah ini, kalian bisa selamatkan sekolah ini dengan menang di Love Live! agar mengabadikan nama sekolah kita di seluruh penjuru Jepang! SMA Uranohoshi dan Aqours akan menjadi bagian sejarah perjalanan Love Live!” Inilah kata-kata yang diteriakkan oleh para siswi SMA Uranohoshi kepada personil Aqours. Bisa dibilang, kata-kata ini adalah bagian paling emosional dari season ke-2 anime ini, sebuah kata-kata dari karakter pendukung yang mampu menggerakkan arah narasi cerita ke haluan yang baru. Tentang bagaimana para personil Aqours bisa bersama dengan teman-teman di sekolahnya membuat kenangan terakhir di sekolah dan mengabadikan nama sekolah mereka sebagai pemenang Love Live!.

Melihat konteks sosial di balik sebuah narasi

Kisah tentang sekumpulan gadis yang membentuk grup idol agar menyelamatkan sekolah dari ancaman penutupan, memang terdengar agak “lebay”, sangat “over the top” dan sebagainya. Kesampingkan dahulu mengenai ketidak hadiran pihak guru dan komite sekolah dalam setiap cerita anime Love Live!, masalah mengenai sekolah yang terancam ditutup bisa dilihat sebagai sesuatu yang tidak terlalu lebay jika melihat konteks sosial di penduduk Jepang.

Sudah bukan rahasia umum bahwa Jepang memiliki permasalahan dengan pertumbuhan penduduk yang kecil. Di Jepang penduduk berusia tua lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan penduduk di usia muda. Banyak faktor yang melatarbelakangi pertumbuhan penduduk Jepang ini mulai dari faktor sosial, budaya, hingga struktural, tetapi hal itu tidak akan dibahas di review ini.

Memahami sekilas mengenai konteks sosial di masyarakat Jepang ini membuat narasi yang dibawa oleh seri Love Live! menjadi sedikit masuk akal. Sebagai dampak dari sedikitnya pertumbuhan penduduk di usia muda, jumlah murid yang ingin masuk ke sekolah pun menurun, karena memang tingkat kelahiran yang kecil. Hal inilah yang menyebabkan kenapa ada sekolah yang harus ditutup seperti SMA Uranohoshi karena memang jumlah penduduk di usia muda sangat sedikit, sehingga butuh usaha ekstra agar penduduk yang sedikit tersebut mau bersekolah di sekolah tersebut, itulah kenapa Chika dan teman-temannya membuat grup idol Aqours.

Konteks sosial juga sangat berperan terhadap bagaimana perbedaan penyelesaian konflik di dua seri anime Love Live! Di seri pertama para anggota µ’s berhasil menyelamatkan sekolah mereka dari ancaman penutupan dengan membuat orang-orang tertarik mendaftar di SMA Otonokizaka. Tetapi di seri kedua, siswi-siswi SMA Uranohoshi gagal untuk membuat orang banyak mendaftaar di sekolah mereka sehingga menyebabkan sekolah mereka dimerger dengan sekolah lain.

Perbedaan penyelesaian konflik ini bisa dilihat dari latar konteks tempat dua cerita ini berada. Seri pertama mengisahkan sekolah yang berada di dekat Akihabara, masih di sekitaran pusat kota Tokyo yang memang padat penduduk. Meskipun secara jumlah nasional penduduk di usia muda memang sedikit, tetapi karena penduduk Jepang terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Tokyo, masuk akal jika µ’s berhasil membuat banyak orang mendaftar di SMA Otonokizaka dan membuat sekolah mereka tidak jadi ditutup. Hal berbeda terjadi kepada anggota grup Aqours dan murid-murid SMA Uranohoshi yang berada di kota Numazu, prefektur Shizuoka. Kota yang dikenal karena bisa melihat gunung Fuji ini bukanlah kota metropolis seperti Tokyo.

Dari data kependudukan di tahun 2016, kota Numazu memiliki total penduduk sebanyak 193,678 dengan kerapatan penduduk 1,036/km2 , bandingkan dengan Tokyo yang memiliki total penduduk sebanyak 13,617,445 dengan kerapatan penduduk 6,224.66/km2 di wilayah Metropolis dan total penduduk sebanyak 37,800,000 dengan kerapatan penduduk 2,662/km2 di wilayah metro. Cukup masuk akal kenapa para personil Aqours tidak bisa mengulang apa yang dilakukan grup idol µ’s dalam menyelamatkan sekolahnya.

Anime dan Content Marketing

Satu hal lain yang sering dianggap “lebay” dan terkadang dipandang “tidak masuk akal” dari seri Love Live! adalah mengenai bagaimana membuat grup idol bisa menyelamatkan sekolah. Jika alasan mengapa ada sekolah yang ditutup bisa dijelaskan jika melihat konteks sosial pertumbuhan penduduk di Jepang, menyelamatkan sekolah dengan membentuk grup idol bisa sedikit dijelaskan dari sudut pandang marketing.

Sejatinya apa yang dilakukan oleh personil µ’s & Aqours adalah sebuah content marketing. Hal ini bisa dilihat dari tujuan µ’s & Aqours terbentuk, yakni untuk mempromosikan sekolah. Menariknya alih-alih melakukan promosi sekolah dengan cara konvensional, menyebar brosur, atau memberi paket beasiswa (yang mungkin bisa saja dilakukan oleh pihak komite sekolah masing-masing), para siswi ini memilih untuk membuat sebuah grup idol, untuk menarik massa, membentuk fanbase, dan menaikkan popularitas sekolahnya. Ini adalah beberapa inti penting dalam content marketing, di mana marketing tidak dilakukan secara konvensional dengan menyebarkan pesan melalui semua media, tapi justru pesan itu, konten dari marketing itu dibuat agar menarik, tidak membosankan, dan membuat hubungan antara para audience dengan penyampai pesan itu.

Di sisi lain, proyek Love Live! sendiri sebagai sebuah proyek media mix bisa disebut sebagai bagian dari strategi content marketing yang besar dari pihak produksi yang ada di belakangnya. Setelah seri anime Love Live! pertama kali tayang, kuil Kanda Myojin di Akihabara menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para otaku, khususnya para fans Love Live! Hal yang sama juga sepertinya terjadi di Love Live! Sunshine!! di mana pemilihan kota Numazu sebagai latar tempat ditujukan untuk mempromosikan daerah tersebut melalui content marketing dalam bentuk seri anime idol. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai episode yang menampilkan beragam tempat wisata andalan dari daerah ini.

(Di stasiun Numazu terdapat poster Love Live! Sunshine!!, ada juga taxi di dekat stasiun yang dihias dengan illustrasi karakter anime tersebut sebagai bagian bahwa anime bisa ikut membantu promosi pariwisata suatu daerah, sumber gambar: Medium)

Setelah anime ini tayang, banyak wisatawan berusia mudia yang mengunjungi kota Numazu dan mendatangi tempat-tempat ikonik di anime ini, salah satunya adalah teluk Uchiura. Situs resmi kota Numazu bahkan punya satu halaman sendiri untuk kolaborasi dengan anime ini. Sepertinya anime di Jepang sudah tidak lagi dipandang sebagai sebuah produk hiburan, tapi juga sarana promosi pariwisata yang cukup efektif.

Kesimpulan – pencarian akan cahaya dan semangat masa muda

Love Live! Sunshine!! memang sebuah anime yang sederhana, tidak memiliki cerita cukup dalam, konflik pelik, dan hal rumit. Terkesan membosankan, namun kesederhanaan inilah yang membuat semua cerita yang cukup emosional bisa tersampaikan dengan gamblang. Anime ini benar-benar menceritakan mengenai pencarian akan cahaya di diri masing-masing, dan juga mengenai semangat masa muda, yang penuh dengan impian dan harapan.

Secara visual season ke-2 anime ini akhirnya menampilkan perpaduan animasi 2D dan 3D dengan cukup baik, tidak terlalu laggy dan aneh seperti di season pertama dan seri sebelumnya. Warna ceria dan desain karakter yang khas sangat cocok dengan mood yang ada. Ketika cerita sedang komedi, ditampilkan desain karakter yang sangat komikal, dan saat adegan emosional, anime ini berhasil mengemas visual yang cukup mengharukan.

Dari segi musik, sebagai anime idol, season ke-2 Love Live! Sunshine!! menghadirkan musik-musik khas idol yang asik untuk sekadar didengarkan. Bagi para pecinta Love Live! Sunshine!! bagian musik bisa jadi menjadi daya tarik utama dari anime ini. Menariknya dalam setiap lagu yang ditampilkan, selalu ada cerita dibaliknya melalui narasi yang dibawakan di tiap episodenya. Selain itu, setiap episode yang menampilkan musik benar-benar terlihat bagaikan sebuah video klip singkat dari lagu tersebut.

Meskipun memiliki tema besar sebagai anime idol, tetapi anime ini memiliki hal lain yang bisa dinikmati, baik dari perkembangan karakter yang menarik diikuti, hingga unsur komedi sitkom yang cukup menghibur. Iya, secara pribadi penulis menganggap bahwa Love Live! Sunshine!! sejatinya bukanlah sebuah anime idol, ini adalah sebuah sitkom dengan joke Looney Tunes dan kartun Amerika lainnya dikemas dengan desain visual ala anime. Komedi visual dalam anime ini cukup menghibur, seakan menjadi pemanis di antara kisah drama yang mengaduk emosi.

Saat sedang naik troli dari perkebunan Jeruk, Kanan tidak sengaja mematahkan tuas kendali, sehingga troli melaju tanpa terkendali. Joke yang sering ditemukan di kartun Amerika seperti Tom & Jerry dan Road Runner Show.

Akhir kata, season ke-2 Love Live! Sunshine!! cocok ditonton saat sedang senggang karena anime ini bisa menghibur dengan gaya yang sederhana dan tidak bertele-tele. Nuansa musikal, drama yang menguras emosi, dan berbagai komedi ringan disampaikan dengan singkat dan lugas.  Sebagai penutup seri, season ke-2 anime ini mampu menyajikan konklusi cerita yang baik dan cukup mengharukan. Bisa jadi anime ini bukan yang terbaik di kelasnya, tetapi sangat menghibur, terutama dengan tema kehidupan masa remaja di sekolah yang penuh dengan rasa pahit maupun manis.

Diulas oleh Rafly Nugroho | Sudut pandang yang ada dalam ulasan ini berasal dari pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan dari pihak Popcon Media dan Popcon Asia.

Copyright 2018 © Popcon Asia
Show Buttons
Hide Buttons