Media

Kak Seto: Kids Zaman Now itu Korban Lingkungan!



Posted on Nov 06, 2017

Generasi Z adalah sebutan untuk generasi yang sejak ia bisa berjalan dan berbicara, sudah akrab dengan internet. Generasi ini berbeda dengan Generasi Milenial yang sempat merasakan dunia tanpa internet, karena Generasi Z ini jauh lebih muda. Di negara-negara maju, Generasi Z ini kelahiran tahun 1995 dan setelahnya, atau yang saat ini sudah, atau belum berusia 22 tahun. Tapi patokan usia ini jadi agak berbeda di masing-masing negara. Negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki generasi Z yang lebih muda, yakni di usia 20 tahun ke bawah. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai “Kids Zaman Now”.

Kids Zaman Now sejak kecil sudah erat dengan gadget dan internet, dan masa remajanya jadi ketergantungan. Lebih banyak interaksi online daripada offline, semua hiburan mulai dari baca, nonton, dan komunikasi dilakukan melalui internet. Tapi mereka ini jadi jauh lebih melek teknologi dan bisnis, juga lebih kreatif dibanding generasi sebelumnya.

 

Mereka jugalah kreator-kreator internet zaman now. Mulai dari video, ilustrasi, komik, bahkan yang receh seperti meme, juga sudah jadi hiburan tersendiri. Ditandai dengan semakin maraknya page-page meme yang terus tumbuh, walaupun terkadang nir-faedah dan terlalu vulgar. Tidak hanya visual, istilah-istilah unik yang nyeleneh pun muncul menyertai budaya meme ini. Seperti “Kids Jaman Now” yang kemudian diperbaiki oleh Kemdibud menjadi “Kids Zaman Now” untuk menggantikan isitilah “Anak Zaman Sekarang”.

Diantara semua meme-meme yang berkembang, ada satu figur yang paling sering dijadikan bahan meme, atau disebut juga sebagai “Memelord” bagi Kids Zaman Now. Ada banyak akun yang mengklaim tentang dirinya, ada banyak foto yang diedit, bahkan dengan kata-kata kotor, dan terus menjadi misteri apakah akun-akun ini benar milik Kak Seto, atau Seto Kaiba hanya bocah-bocah yang ingin rambutnya setebal Kak Seto…

#CREATORofTHEWEEK

Sebelum menjadi polemik yang berkepanjangan, apalagi sampai semua kids masuk penjara, tim POPCON Media pun langsung bertemu dengan Kak Seto yang asli untuk mendapatkan konfirmasi. Berikut ini wawancaranya:

[POP] Bagaimana Kak Seto meliat fenomena Kids Zaman Now ini?
Anak-anak selalu menjadi korban dari zamannya, karena anak-anak belajar dari lingkungannya. Lingkungan yang membentuk mereka. Kalau lingkungannya sudah canggih, itulah dunia mereka. Mereka ngga bisa ditarik mundur, disuruh main benthik, engklek, waduh itu jadul banget.
[POP] Jadi bagaimana kita harus menyikapinya?

Ibaratnya mereka ini sudah sangat adaptif, melek teknologi, anak-anak yang sudah sangat super spesialis di bidang itu, jangan ditarik mundur. Kecanggihan mereka ini justru harus bisa dimanfaatkan oleh “Kids Zaman Old” untuk merebut berbagai peluang yang ada, agar tidak kalah dari Korea, Jepang, Tiongkok, dan sebagainya. Karena kedepannya tidak hanya transportasi, retail saja mulai bangkrut. Kids Zaman Now-lah yang harus mengisi dan mengatasinya. Kemampuan mereka harus dimanfaatkan untuk hal yang positif, dengan pengarahan-pengarahan yang dikaitkan dengan kreatifitasnya, bisa menjadi peluang emas untuk kejayaan Indonesia di tahun 2045.

[POP] Tapi kebanyakan orang tua menganggap mereka biang masalah dan sulit diatur?

Itulah pentingnya agar orang tua jangan gaptek, arahkan anak-anak ini dengan aktifitas yang seimbang. Kalau main gadget dianggap kurang bergerak, ajak main gadget yang banyak bergerak. Kalau kurang berteman, ajak lingkungan di rumah untuk membuat kelompok-kelompok bermain, agar bisa bermain bersama. Jadi bagaimana peran orang tua untuk memanfaatkan situasi seperti ini jadi sesuatu yg menguntungkan dalam segala aspek kehidupan. Termasuk membantu mengatasi tantangan bisnis, nasionalisme, dan sebagainya.

Karena sekarang ini untuk membuka berbagai macam usaha, misalnya makanan, sudah bisa diatasi dengan aplikasi atau internet. Go-Jek adalah salah satu contoh terobosan cemerlang. Ke depannya sekolah juga bisa bangkrut karena belajar tidak perlu lagi datang ke sekolah. Dengan homeschooling, belajar matematika, biologi, diferensial integral bisa dikuasai lebih cepat cukup dari rumah.

[POP] Jadi Kak Seto melihat mereka lebih pada potensinya ya?

Ya karena kemampuan mereka dalam mengadaptasi teknologi ini harus dimanfaatkan. Kalau tidak waspada, tidak memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai keniscayaan di masa depan, semua yang OLD itu akan gulung tikar. Transportasi sudah goyah, retail goyah, dan berikutnya institusi sekolah.

[POP] Bagaimana dengan anggapan kalau mereka ini generasi yang malas membaca?

Yang penting bukan bukunya secara fisik, karena sekarang sudah ada e-book. Bisa dibuka di mana-mana. Jangan sampai memupuk minat baca hanya sampai memupuk minat membeli buku. Karena tanpa buku pun sekarang kita sudah bisa membaca, dan memperoleh manfaat positif dari membaca. Kalau dulu pakai batu tulis, kertas, sekarang kita bisa pakai gadget. Di situlah maknanya kita yang harus memperalat gadget, jangan gadget yg memperalat kita. Jangan hanya bisa pakai ala kadarnya, tapi belum bisa memanfaatkannya dengan benar dan maksimal.

[POP] Tapi kebanyakan orang tua juga takut kalau gadget dan internet itu lebih banyak membawa hal negatif, seperti pornografi?

Jangan sedikit-sedikit takut akan hal porno. Trus dikatakan gadget bikin kita belajar porno, ya jangan pornografinya yang dibuka, gunakan untuk hal lain. Pengarahan yang seperti itu juga sudah bisa dilakukan untuk anak usia dini. Jadi gadget jangan diberikan hanya untuk mendiamkan mereka, tapi sekaligus untuk diarahkan untuk mempelajari banyak hal baru yang positif.

[POP] Usia berapa menurut Kak Seto anak boleh diberikan gadget dan internet?

Usia tiga tahun sudah bisa. Yang penting diarahkan dan harus seimbang dengan aktifitas fisik lainnya, seperti olahraga, jadi seimbang, tidak menjadikan anak malas bergerak. Juga tetap diarahkan untuk bersosialisasi, melihat alam, agar ada kesimbangan hidup, kuncinya di orang tua. Jadilah sahabat buat anak.

[POP] Nah, sekarang pertanyaan penting nih dari para warga net. Kak Seto sebetulnya punya akun socmed atau tidak?

Saya terus terang tidak punya, karena saya tidak mau terlalu larut di dunia maya. Karena kita juga harus punya keseimbangan hidup.

[POP] Jadi bagaimana Kak Seto bisa mengetahui perkembangan meme-meme di internet?

Ada anak-anak saya yang memantau. Saya tahu sekarang banyak meme-meme segala macam tentang saya. Dari instagram, juga socmed lainnya, ada akun-akun palsu tentang saya, kemudian diedit wajahnya, dari yang ini, itu, nanti ada yang jadi perempuan, segala macam.

[POP] Lantas bagaimana Kak Seto menyikapinya?

Biar saja, orang juga sudah punya pikiran sehat kok, bisa membedakan mana yang benar dengan mana yang tidak.

[POP] Kak Seto tidak melihat itu akan menjadi kebablasan?

Yang sleding-sleding gitu kan? Anak saya malah heran kenapa Ayahnya cuma ketawa. Ya kenapa harus stress? Yang penting bagaimana sikap nyata kita di masyakarat. Saya juga menganggap itu bagian dari dinamika anak-anak muda, agar mereka juga bisa menggunakan logika dan bertindak kritis dalam berkreasi dan bersosialisasi.

[POP] Berarti tetap kembali ke orang tua ya untuk menjaga mereka agar tetap sesuai aturan?

Di situlah pentingnya peran orang tua. Bisa jadi mereka kurang diperhatikan. Harus ada hubungan interpersonal yang akrab di dalam keluarga. Dalam keluarga, saya tidak memposisikan sebagai bos, tapi sebagai sahabat bagi anak-anak saya. Jadi anak-anak akrab sekali dengan saya. Mereka bisa mengkritik saya, mengingatkan saya, memberikan masukan-masukan, dan sebagainya.

[POP] Jadi Kak Seto tidak melarang semua bentuk “kreatifitas” ini?

Ya agar mereka juga tidak asing dengan dunia yang terus berubah ini. Sambil didukung dengan sistem pendidikan formal & informal di dalam keluarga sebagai penjaganya. Komunikasi yang dirancang untuk berpikir kreatif untuk memanfaatkan sisi positif dari gadget harus terus ditingkatkan.

 

[POP] Kak Seto juga dikenal sebagai kreator ‘Si Komo’, apakan ada rencana untuk dihidupkan lagi?

Si Komo memang dihidupkan lagi. Maskot khas indonesia ini harus bisa kembali digemari, diminati anak-anak, dan menjadi media pendidikan bagi mereka. Kalau dulu Komo boneka tangan, sekarang sudah seperti Barney, jadi bisa langsung berinteraksi dengan anak-anak.

[POP] Segmentasinya tetap ke anak-anak atau juga menyasar ke Kids Zaman Now?

Segmennya tetap untuk anak usia sekolah dasar. Karena di usia itu pentingnya belajar etika, estetika, keindahan, bertutur kata, bertingkah laku, bersahabat, nasionalisme, dan cinta tanah air untuk mulai ditanamkan.

[POP] Terakhir, apa pesan Kak Seto untuk Kids Zaman Now?

Maju terus dengan kreatifitas kalian, karena sekarang ini cerdas saja tidak cukup. Karena kalau cerdas saja, itu hanya menggunakan otak kiri. Agar dua sisi otak terpakai, otak kanan juga perlu dilatih, dan gadget bisa menjadi medianya untuk mengasah kreatifitas. Jangan sampai kita yang diperalat oleh gadget dan internet, kita yang harus bisa memanfaatkannya.
——————

Nah, jadi kalian sekarang aman ya…
Tidak perlu takut di-sleding kepalanya satu-satu, apalagi sampai jadi tersangka. Karena Kak Seto menghargai kreatifitas kalian, tinggal kalian yang harus bisa menjaga etika, membedakan mana yang baik dan bermanfaat, dan mana yang tidak. Salut untuk Kak Seto!

 

  • AKI-F

    Bener bener panutan..

  • Henry Kurnia Hutama

    uhh aku berharap wawancara dalam bentuk video soalnya mau liat ekspresi kaseto tp gpplah :3

  • Rakhmat Hadita Putra

    kecewa tidak jadi disleding
    *copot helem*

  • Muhammad Izzaul Haque Ufomania

    wkwkwk, untung kak Seto ini penyabar dan easy going, nggak seperti si Papa satu itu…

  • Satria

    mantap, kak Seto panutanku! 😀

  • Ali Aga Mustofa

    #Respect

  • shijuma

    Sasuga seto nii-chan 😂👏

  • Khoiruunisa Ramada Fitri

    Salut sama Kak Seto!^^

  • Kreativitas.

  • *sungkem*

  • Pingback: Selamat Ulang Tahun! Ini Dia 10 Komik Terbaik Kak Setyo – Popcon Asia()







Popcon Asia

Popcon Asia is the premier pop culture event by Popcon Inc, dedicated to creating awareness of, and appreciation for creative and popular art forms.


Copyright 2017 © Popcon Asia