Blog

J-Town, “Family Guy” dengan Kearifan Lokal di NET TV



Posted on Oct 28, 2017

Jika bicara animasi di pertelivisian Indonesia, yang teringat selalu adalah anime-anime Jepang yang di-dubbing dengan bahasa Indonesia dan tayang setiap akhir pekan. Belakangan tidak hanya anime Jepang dan animasi hollywood saja yang tayang, animasi buatan negara tetangga juga mulai mendominasi pertelevisian Indonesia dan tentu saja diiringi dengan animasi buatan lokal yang tidak kalah ciamiknya.

Umumnya animasi buatan lokal yang tayang di pertelivisian Indonesia bentuknya adalah 3D (Tiga Dimensi), nyaris sulit ditemukan animasi berbentuk 2D saat ini. Mungkin salah satu faktornya karena mata kuliah animasi yang dipelajari kebanyakan animasi berbentuk 3D.

Di antara banyaknya animasi 3D buatan lokal, serial animasi terbaru milik NET TV berjudul J-Town hadir membawa angin segar. Dari awal kemunculan teasernya, konsep dan artwork yang disajikan J-Town tampak seperti animasi Family Guy atau The Simpson dengan sentuhan kearifan lokal.

Seperti yang diketahui J-Town ini merupakan animasi pertama sekaligus intelectual property (IP) yang dimiliki NET TV. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai animasi 2D ini, simak wawancara eksklusif tim popcon dengan Widharini selaku produser NET TV untuk J-Town.

Bagaimana awalnya animasi J-Town ini dibuat?

Awalnya, dari keinginan Net untuk menyajikan tayangan baru yang fresh. Animasi salah satu hal yang belum pernah dieksplor. Apalagi semakin banyak anak muda kita yang terjun di dunia animasi sehingga kita juga cukup menyadari akan banyaknya animator berkualitas yang tersedia.

Apa alasan memilih Kumata Studio sebagai eksekutor J-Town di antara banyaknya studio animasi yang ada?

Net sebenarnya mengundang beberapa PH yang membuat animasi dan setelah proses obrolan, akhirnya kita memutuskan untuk bekerja sama dengan Kumata karena karakter dan style Kumata sesuai dengan apa yang NET. inginkan.

Berapa lama sih proses pembuatan animasi J-Town ini?

Ide awal itu kita obrolin tahun lalu (2016), dan setelah fix kita baru mulai buat sinopsis keseluruhan di bulan Februari. Untuk 1 episode kurang lebih menghabiskan waktu sebulan. J-Town sendiri memiliki 12 episode.

Siapa saja jajaran dubber-nya?

Indra Bekti sebagai Jaya. Astri Welas sebagai Ayu, istri Jaya. Hesti Puwradinata sebagai Syahnini, penghuni rusun yang aneh. Imam Darto sebagai Jono, teman kecil Jaya yang kini jadi pemilik J-Tower, apartemen mewah di sebelah J-Town. Selebihnya talent voice over yang masih baru.

Apa pertimbangan NET untuk J-Town yang tayang malam?

Karena J-Town nggak mengkhususkan cerita buat anak-anak. Jadi secara slot tayang kita bebas bermain di jam mana saja. Sekarang ini Net menayangkan J-Town di jam prime time weekend (Sabtu dan Minggu).

Apa yang ingin Net. sampaikan melalui J-Town?

Setiap orang pasti punya impian hidup mewah, tapi tidak sedikit dari mereka malas untuk berusaha. Karakter Jaya muncul sebagai singgungan terhadap mereka yang mau tahu beres doang, dan mengandalkan warisan orang tua. Di sisi lain, karakter Jaya dibuat sebagai sosok yang sangat menyayangi keluarganya, karena setiap kita menghadapi masalah, semua akan kembali ke keluarga.

Animasi J-Town yang diproduksi oleh Kumata Studio ini episode pertama dan keduanya telah tayang minggu lalu. Banyak easter egg yang bisa ditemukan dalam animasinya jika jeli melihat…

J-Town sendiri bercerita tentang sebuah keluarga yang terpaksa merantau ke ibukota karena kekayaan mereka di kampung ludes. Satu-satunya harta warisan tersisa adalah J-Town, sebuah  rumah susun yang bobrok dengan beragam penghuni  yang aneh.

Dalam usahanya merawat dan mengembangkan rumah susun warisan, Jaya Sang Kepala Keluarga yang lugu dan malas malah seringkali menambah masalah sehingga kehidupan di  J-Town penuh kekisruhan.

Penasaran seperti apa lika-liku kehidupan mereka di rumah susun J-Town? Nantikan setiap Sabtu dan Minggu pukul 21.00 WIB di NET.

 

 

 







Popcon Asia

Popcon Asia is the premier pop culture event by Popcon Inc, dedicated to creating awareness of, and appreciation for creative and popular art forms.


Copyright 2017 © Popcon Asia