CREATOR OF THE WEEK

Go Nagai: Dari Asisten Pencipta Kamen Rider, Jadi Bapak Super Robot Dunia

By : Al Dabaran | January 13, 2018

Lahir pada tahun 1945 di kota Wajima, prefektur Ishikawa, Jepang, nama Kiyoshi Nagai alias Go Nagai mungkin hanya dikenal sebagai komikus pencipta karakter Mazinger, Cutie Honey, dan Devilman. Tapi dibalik itu, dialah saksi hidup dari para legenda komik Jepang. Terinspirasi dari karya-karya Osamu Tezuka sang pencipta Atom/ Astro Boy, hingga bekerja sebagai asisten Ishimori Shotaro, komikus yang menciptakan Kamen Rider, ia menyaksikan bagaimana komik-komik Jepang terus berevolusi, dan menjadi bagian penting dari pop culture dunia.

Hari ini, karya legendarisnya yang lahir di tahun 1972, dilanjutkan kembali dan mulai tayang di bioskop. Bagaimana tipsnya membuat karya yang bisa bertahan lama dan dikenal di seluruh dunia, juga bagaimana pandangannya terhadap komik-komik internasional dan sikapnya yang anti politik? Simak wawancara dengan Go Nagai yang dirangkum dari berbagai sumber dalam rangka menyambut tayang perdana “Mazinger Z: Infinity” di Jepang.

#CREATORofTheWEEK

[POP] Lahir tiga bulan setelah tragedi Bom Atom, bagaimana perang dan politik mempengaruhi karya-karya seorang Go Nagai?

Saya sering ditanya apakah Dr. Hell itu bagian dari Nazi, Jerman. Saya bisa dengan jelas menyebutkan kalau itu salah. Karena saya tidak pernah membuat karakter jahat yang berasal dari negara tertentu, karena saya sadar itu bisa menyinggung negara itu. Kita sering melihat film Hollywood yang menampilkan penjahat dari Rusia dan Arab, inilah yang membuat kita memiliki pemikiran yang salah tentang dunia.

GO NAGAI, TOKYO 1987

Walaupun saya tidak merasakan langsung pengeboman dan perang, tapi masa kecil dan kepribadian saya dibentuk dari trauma orang-orang di sekitar saya. Mereka selalu menceritakan betapa mengerikannya pengalaman itu, jadi saya tumbuh dengan penuh kesadaran untuk selalu membawa pesan damai.

Perang dalam cerita yang saya tampilkan itu justru untuk memberikan pelajaran pada anak-anak tentang dampak buruk dari perang dan bagaimana masyarakat dapat menderita karenanya. Kalau kita hanya menceritakan dongeng-dongeng yang indah pada anak-anak, mereka tidak akan tahan pada beratnya hidup sebagai orang dewasa. Kalau mereka tidak tahu bagaimana rasanya hidup dalam kekerasan dan tekanan, mereka bisa menjadi orang dewasa yang bersikap buruk, yang memberikan banyak masalah ke orang-orang di sekitarnya.

Saya kira itulah pemikiran yang berkembang di Jepang saat ini. Juga menjelaskan kenapa orang-orang di luar Jepang banyak yang menilai komik-komik Jepang itu penuh dengan kekerasan, padahal sejak tahun 1945 kita tidak pernah terlibat perang, berbeda dengan Amerika yang menerapkan banyak sensor untuk animasi dan program anaknya, tapi malah terlibat dalam banyak perang di seluruh dunia.

Anak-anak perlu diberikan informasi kalau kekerasan dan kompetisilah yang akan mendominasi kehidupan dewasa mereka, itu tidak boleh ditutupi.

[POP] Tapi anda justru memulainya dari komik komedi, bagaimana itu bisa terjadi?

Saya mulai tertarik membuat komik di tahun 1963 karena Osamu Tezuka, saya berusaha mengirimkan karya saya dan mempresentasikannya, tapi itu tidak pernah terlaksana. Saya terus menggambar, dan setahun setelah lulus SMA saya diterima menjadi asisten Ishimori Shotaro di tahun 1965. Di sana saya melihat langsung bagaimana Ishimori merevolusi komik-komik Jepang.

Bagaimana ia membuat sebuah panel panjang yang terbagi-bagi, saat semua orang di masa itu masih membuatnya kotak-kotak dalam ukuran standar. Juga bagaimana “speech bubbles/ balloon” dibuat menembus panel, “Wah, jadi boleh begitu ya?!”

Sekarang mungkin itu sudah biasa, tapi dulu itu hal yang luar biasa. Saya juga banyak belajar menulis komik dengan cerita panjang dari beliau. Tapi akhirnya saya tidak bisa membuat karya sendiri. Makanya saya membuat komik-komik komedi yang hanya membutuhkan sedikit panel, dan akhirnya muncullah “Meakashi Pori Kichi” dan “Harenchi Gakuen”.

Walaupun komedi, tapi saya menerapkan inovasi-inovasi Ishimori pada komik-komik itu. Misalnya, dulu itu komik komedi tampilannya seperti aksi panggung. Panelnya selalu terbagi dalam ukuran yang sama dan seluruh tubuh karakternya terlihat. Saya membongkar tradisi itu, saya buat panel yang besar, saya gunakan close-up, juga hal-hal lainnya yang sudah diterapkan di komik-komik cerita. “Harenchi Gakuen” menjadi bagian dari sejarah terbitnya Shonen Jump Weekly (1968), dan bertahan hingga 4 tahun. Tapi saya tetap memendam hasrat pada komik sci-fi seperti Kamen Rider dan Kikaider karya Ishimori, tapi saya masih belum menemukan ide yang orisinil, karena buat saya originalitas itu penting.

[POP] Lantas bagaimana Mazinger itu lahir?

Tokyo di tahun 70-an sangat macet. (Wah, ngga salah denger nih? Jepang ternyata pernah macet juga.) Semua pengemudi mengeluh bagaimana mereka tidak bisa bergerak, saya sendiri juga merasakannya. Lantas terpikir bagaimana kalau mobil saya ini bisa punya tangan dan kaki untuk berjalan melewati mobil-mobil yang ada di depannya. Sampai studio saya langsung membuat desain awal dari Mazinger.

[POP] Dan akhirnya sukses menjadi Super Robot pertama dan sukses terkenal di seluruh dunia?

Tidak ada yang pernah menyangka dan merencanakannya. Kalau saat ini banyak kreator Jepang memang berusaha keras untuk menjual karyanya agar diterima pasar global, tapi dulu saya hanya membuatnya untuk pasar Jepang. Saya benar-benar tidak menyangkanya.

Tapi saat itu saya memang sudah mendirikan Dynamic Planning, sebuah perusahaan yang mengembangkan satu karakter tidak hanya pada satu media. Mazinger yang berawal dari komik, langsung dibuat dalam bentuk serial animasi, mainannya juga dibuat. Mungkin dari sana awal peluangnya untuk dikenal di seluruh dunia.

Selain itu saya juga membawa realita. Karena walaupun dunianya fiksi, tapi masalahnya nyata. Seperti situasi macet tadi dan bagaimana orang berimaginasi untuk mencari solusinya. Selebihnya tinggal diperbesar skalanya. Walaupun jadi hiperbola, tapi tidak bisa dipungkiri saat kita makan enak, kita berkata “Lezat sekali!” Ekspresi-ekspresi ini yang diterapkan pada Mazinger Z, juga dampak-dampak dari pertarungan robot raksasa yang terlihat realistis, dan itu belum pernah mereka temui di karya-karya sebelumnya.

Satu lagi, anak-anak juga suka dengan konsep “Rocket Punch”, karena kita terkadang ingin memukul orang yang jaraknya jauh dari kita. Haha..

[POP] Dari Mazinger, kemudian ke Getter Robo, robot yang pertama kali bergabung, juga ada Cutie Honey, jagoan perempuan seksi pertama dalam sejarah komik Jepang. Sebelumnya juga ada Devilman, penjahat, tapi jagoan. Originalitas rupanya memang penting sekali ya buat seorang Go Nagai?

Saya memang membawa pesan itu di komik-komik saya. Sebelumnya tidak ada perbedaan karakter yang jelas antara laki-laki dalam perempuan dalam sebuah komik. Karena kembali lagi saya membawa realita, tidak ada yang saya tutupi. Termasuk dalam menciptakan sosok Ashura (panglima perang separuh wanita, separuh pria di serial Mazinger), banyak yang mengira saya menciptakannya karena ingin memanfaatkan seksualitasnya, padahal tidak seperti itu.

Ashura justru dibuat untuk menyindir para karyawan Jepang yang kebanyakan takut pada bosnya, tapi sewenang-wenang pada bawahannya. Sosok Ashura punya banyak anak buah. Saat ia memerintah anak buahnya, ia menggunakan suara pria-nya, agar sosoknya jadi lebih tegas dan menakutkan. Tapi saat harus berhadapan dengan Dr. Hell ia berusaha menutupi kegagalan dan merajuk dengan suara perempuannya. Mungkin tidak banyak yang tahu tentang hal ini.

[POP] Wah benar juga ya… Lantas, kenapa Mazinger masih terus dibuat dan dibuat lagi? Begitu juga dengan Devilman dan Cutie Honey?

Karena saya tidak pernah puas dengan karya-karya saya. Saya selalu berpikir untuk menyempurnakannya. Di satu sisi, teknologi animasi juga terus berkembang. Saya selalu ingin tahu karakter yang sudah saya ciptakan ini bisa melakukan apa lagi di dunia yang sudah semakin modern ini.

Selain film “Mazinger Z: Infinity” yang berlatar 10 tahun sejak serialnya tamat di tahun 1974, Januari ini juga dirilis 10 episode Devilman Crybaby di channel Netflix.

[POP] Semua karya Anda selalu total dalam hal kehancuran. Walaupun ada sedikit bumbu romantisnya, tapi genre-nya tetap sci-fi fantasy. Sementara ada juga genre romantic sci-fi, apakah Anda tidak tertarik untuk membuat karya seperti itu?

Itu menarik, saya rasa saya bisa membuatnya, tapi para penerbit itu selalu meminta saya membuat karya tentang robot yang menghancurkan alien jahat. Haha. Tapi ini bagus juga untuk menghilangkan salah kaprah, karena dalam membuat setiap adegan pertarungan, saya tidak mau menyerang pihak-pihak tertentu, termasuk melukai perasaan dan hati manusia. Jadi biarkan saja kisah-kisah romantis itu dibuat oleh kreator lainnya.

[POP] Terakhir, apa pesan Anda untuk kreator-kreator di seluruh dunia?

Kalau ada yang bilang kamu tidak boleh melakukannya, pasti kamu justru ingin melakukannya. Hal-hal yang dianggap tabu itu kadang hanya karena belum banyak orang yang melakukannya. Karena semua kreasi itu adalah perjalanan dari pemikiran yang dalam dari setiap kreator. Gali terus ide-ide orisinil dari dalam pikiranmu dan terus lakukan yang terbaik!


Walaupun “Mazinger Z: Infinity” baru tayang perdana hari ini di bioskop-bioskop Jepang, filmnya sudah tayang duluan di Itali dan Perancis pada 22 November. Di Amerika juga sudah dijadwalkan untuk tayang mulai 11 Februari 2018. Indonesia sendiri juga sudah dijadwalkan akan tayang di CGV, namun belum diumumkan kapan tanggal pastinya.

Yang jelas, menurut para fans yang sudah sempat menonton, film ini sukses menghadirkan kembali karakter klasik Mazinger dalam balutan cerita modern yang penuh plot twist. Jadi semakin penasaran nih!

Sumber: Mazinger-ZGo-Wonderland

Copyright 2018 © Popcon Asia
Show Buttons
Hide Buttons