MUSIC

Franki “Pepeng” Indrasmoro: Naif sekali kalau menganggap Pemusik Jaman Now harus memiliki kanal Youtube sendiri.

By : Al Dabaran | July 11, 2018

Nama Franki Indrasmoro Sumbodo alias Pepeng sebagai drummer band NAIF pastinya sudah tidak asing lagi. Tapi bagi kamu penggemar komik “Setan Jalanan,” namanya pastinya sudah lebih tidak asing lagi. Karena Mas Pepeng lah yang menulis cerita dan memproduksi komik ini bersama Haryadhi.

Tapi di POPCON Asia 2018 ini, Mas Pepeng juga akan banyak berbicara tentang musik. Yuk, langsung kita tanya-tanya pendapatnya tentang industri musik Indonesia saat ini, terutama yang terkait dengan Pop Culture.

[POP] Mas Pepeng, langsung aja nih. Di era digital dan medsos ini, industri musik di Indonesia ini apa kabarnya? Apakah ekosistemnya sudah jadi lebih baik?

Era digital dan medsos sangat memperkaya katalog musik Indonesia modern, terutama di skema arus bawah, atau istilah umumnya: indie. Tapi kalau ditanya kondisinya jadi lebih baik atau tidak, tergantung kita melihatnya dari sisi mana. Era digital memudahkan pemusik indie untuk memproduksi dan mendistribusikan karyanya, sehingga membuka peluang lebar baginya untuk dikenal, dan bukan tidak mungkin kemudian masuk ke industri yang lebih besar.

Jadi era digital dan medsos ini menambah unsur keadilan dalam peta permusikan, khususnya di Indonesia. Artinya, tidak melulu didominasi oleh genre atau rilisan label atau perusahaan rekaman tertentu.

[POP] Kalau bicara album, saat distribusi sudah lebih banyak online, bahkan ke gerai makanan cepat saji dan mini market, apakah ini memang jadi pilihan terbaik bagi para pemusik?

Relatif ya, terbaik bagi kita belum tentu terbaik bagi orang lain, dan sebaliknya. Yang pasti, semakin banyak jalur alternatif distribusi, semakin baik.

[POP] Apakah penjualan album saat ini masih menjadi penghasilan utama dari para pemusik?

Sejujurnya, sejak dulu pemusik Indonesia secara umum tidak pernah mendapat penghasilan utama dari penjualan album. Panggung dan off-air tour adalah pemasukan utama dan terbesar para pemusik kita. Ini disebabkan karena kenaifan seniman kita di masa lalu dalam segi bisnis dan hukum, tidak tertatanya manajemen artis, dan tidak jujurnya kebanyakan label atau perusahaan rekaman pada umumnya di masa itu. Dan hal ini berlangsung selama puluhan tahun.

Baru belakangan saja, sekitar awal millennium pemusik kita secara perlahan mulai teredukasi akan legal dan pentingnya manajemen bisnis demi menjaga hak kekayaan intelektual mereka. Dan semakin hari semakin membaik, sampai kini.

Distribusi digital membantu menunjang kesejahteraan pemusik kita, mudah-mudahan sampai ke taraf seimbang antara penghasilan dari manggung dengan penjualan album atau single.

[POP] Bagaimana dengan kanal Youtube? Apakah sudah menjadi suatu kewajiban untuk dimiliki oleh semua pemusik?

Menjadi terasa naif sekali kalau menganggap pemusik jaman now wajib memiliki kanal Youtube sendiri. Semua kembali ke kebutuhan si pemusik itu. Yang pasti, keberadaan video musik masih diperlukan, walaupun tidak terlalu signifikan seperti di masa lalu.

[POP] Di era digital ini, persaingan tidak hanya datang dari pembajak yang menggerus pemasukan bagi artis, tapi juga para netizen yang aktif meng-cover, bikin parodi, dan kadang itu jadi lebih viral daripada lagu aslinya. Bagaimana Mas Pepeng melihat fenomena ini? Menguntungkan atau merugikan?

Kalau menurut saya pribadi, si pemusik tidak usah ambil pusing bagaimana lagunya di-cover atau diparodikan orang, walau itu pada akhirnya pun menjadi viral. Namanya sebagai si pemilik asli lagu tersebut tidak akan pernah terlupakan. Apalagi kalau si pemusik tersebut sudah mendaftarkan karya-karyanya ke perusahaan publishing, yaitu lembaga yang khusus melindungi hak pakainya. Tak ada alasan baginya untuk khawatir. Royalti dari hak pakai karyanya akan terus berjalan.

[POP] Terkait masalah perlindungan hak cipta, bagaimana Mas Pepeng dan NAIF berperan aktif dalam mengamankan karya-karyanya?

Sejak album kedua kami tahun di tahu 2000 meledak, kami telah sadar diri untuk mendaftarkan karya-karya kami ke perusahaan publishing. Dan itu berlangsung hingga kini. Alhamdulillah, kami selain mendapat pemasukan dari panggung juga mendapat hasil yang sepadan dari royalti atas pemakaian lagu-lagu kami, seperti untuk pemakaian iklan, soundtrack film atau sinetron, cover dari artis lain, dan sebagainya.

[POP] Kalau kita bicara pop culture, dimana musik adalah salah satunya, kita sering bilang, “Wah, film kita kalah nih sama film luar!” Karena jatah bioskopnya kurang, atau, “Mainan lokal kalah, karena brand luar lebih berkualitas dan gila pemasarannya.” Kalau di musik, apakah ada kendala yang sama?

Untungnya musik Indonesia tergolong maju dan baik secara kualitas, terutama di kawasan Asia Tenggara. Berani diadu. Tapi jangan bandingkan industri kita, baik musik, film, mainan, komik, dan lainnya dengan industri barat, tidak seimbang! Lingkup pemasaran mereka worldwide. Sudah pasti akan lebih terasa masif dalam segala hal.

[POP] Mas Pepeng juga dikenal sebagai komikus dan illustrator. Jika dibandingkan dengan musik, apa yang masih menjadi kelebihan musik dibanding dua bidang tadi?

Untuk kasusnya di Indonesia, musik jauh lebih beruntung dibanding komik. Industrinya sudah terbentuk sejak lama. Semua orang Indonesia suka musik. Itu kelebihannya. Orang Indonesia banyak yang tidak suka membaca.

[POP] Dari sisi Mas Pepeng sendiri, lebih suka dikenal sebagai pemusik, komikus, atau illustrator?

Dalam industri komik, saya lebih memilih untuk meletakkan diri saya sebagai penulis dan produser, bukan komikus atau illustrator. Saya lebih suka dikenal sebagai apa? Sebagai seniman dan enterpreneur saja. Haha.

[POP] Dalam jangka pendek, lebih potensial di bidang yang mana nih? Komik atau musik?

Untuk saat ini saya merasa energi saya sedang besar di komik…

[POP] Nah, kalau kita melihat POPCON Asia sebagai event pop culture yang juga mencakup musik di dalamnya, gimana komposisinya saat ini menurut Mas Pepeng?

Sejujurnya, saya merasa POPCON Asia masih kurang mengangkat musik secara umum. Selama ini masih banyak menitikberatkan ke komik, animasi, mainan, dan film. Kalaupun ada konten musik, masih sebatas yang berhubungan erat dengan anime. Wajar, memang. Pop culture memang identik dengan komik, animasi, mainan dan film. Tapi alangkah baiknya kalau POPCON Asia lebih berani mengangkat juga musik kita.

[POP] Apa harapan ke depannya bagi POPCON Asia untuk bisa turut berperan dalam meningkatkan industri musik di Indonesia?

Jadilah media alternatif bagi pemusik dan calon pemusik untuk lebih saling menginspirasi, dan posisikan diri POPCON Asia sebagai media pertemuan arus seni musik dan visual. Biar para penggemar musik juga mengerti seluk-beluk perfilman, komik dan animasi. Begitupun sebaliknya, biar geeks kita juga lebih mengerti tentang dunia musik. Kembali lagi, agar bisa saling menginspirasi. Memperluas wawasan seni dan belajar mengapresiasi.

Nah, sebelum kita ketemu langsung dengan Mas Pepeng di #POPCONAsia2018, kita simak dulu lagu “7 Bidadari” dari NAIF…

Copyright 2018 © Popcon Asia
Show Buttons
Hide Buttons