COSPLAY

Ari Santosa: Cosplay itu ada untuk menghibur. Kalian di panggung untuk menghibur penonton, bukan juri!

By : Al Dabaran | July 10, 2018

Kamu baru berkecimpung di dunia Cosplay? Wah, kamu perlu kenalan dengan Ari Santosa, salah satu cosplayer senior yang sudah rajin pakai kostum dari zamannya pesta kostum Halloween di tahun 90-an, Predator dan Alien di tahun 2000, hingga kostum animatronik T-Rex pertama dari Indonesia. Baru-baru ini ia juga dipercaya menggarap beberapa kostum mekanik untuk sebuah film besar lho!

Ari Santosa, lahir di Jakarta, 2 September 1973. Lulusan FSRD (Fakultas Seni Rupa & Desain) ITB (Institut Teknologi Bandung) angkatan 1993, jurusan Desain Grafis ini aktif di dunia menggambar, costume and prop making, pembuatan miniatur, make up effect, sculpting, hingga fotografi. Ia juga aktif mengajar di Universitas Multimedia Nusantara.

Dari segudang kegiatannya, Mas Ari berhasil kita culik untuk menjadi salah satu juri #POPCONCosplayChallenge. Buat kamu yang mau memenangkan hadiah total 36 juta Rupiah, kamu harus tahu bagaimana pandangan Mas Ari tentang Cosplay, termasuk tips dan trik penilaiannya agar bisa lolos dan jadi pemenang. Yuk langsung aja kita simak wawancara tim POPCON dengan Ari Santosa.

[POP] Menurut mas Ari sendiri Cosplay itu apa sih?

Semua orang saat masih kecil, memiliki imajinasi yang tinggi. Seperti memakai serbet ibunya untuk dijadikan jubah Superman, atau Batman. Berimajinasi itu sudah ada semenjak kita kecil. Walaupun banyak yang tidak begitu, tapi dulunya mereka kreatif, punya imajinasi yang tinggi. Nah pas dunia Cosplay ini datang, orang-orang itu senang, “Wah ada tempat buat kita pakai kostum nih.” Karena yang dulunya ingin jadi Batman, jadi Superman sekarang bisa kesampaian. Mereka ingin mewujudkan itu. Dalam diri manusia itu, pasti naturally ingin menjadi something different. Nah Cosplay itu sebenarnya ajang untuk menunjukan diri kita yang lain.

[POP] Lomba Cosplay di Jabodetabek ini hampir setiap minggu ini ada, apakah ini perkembangan yang baik?

Pop Culture dari Jepang pengaruhnya sangat besar. Kita seperti diinvasi untuk kedua kalinya dengan cara yang berbeda. Namun industri dalam cosplay ini sendiri mulai melemah, dalam artian, walaupun karakter-karakternya tidak pernah habis, tetapi regenerasi di Indonesia ini sangat lambat. Maksudnya lambat di sini dari segi skill. Para senior-senior yang jago dalam membuat kostum mulai hilang, sedangkan adik-adiknya ini ditinggalkan tanpa ada bekal ilmu. Kalau sudah begini, ujung-ujungnya kualitas cosplay jadi menurun.

[POP] Berarti tidak bagus juga untuk industri cosplay?

Mungkin dari segi kualitas menurun, tetapi bukan berarti industrinya akan mati. Dulu lebih bagus, newbie-newbie belum berani masuk. Tapi kalau sekarang, newbie-newbie itu berani. Saya senang juga melihatnya. Jepang juga pasti suka, karena kalau pasar Indonesia menurun, mereka ngga akan mau ke sini lagi.

[POP] Bagaimana tanggapan mas Ari tentang dunia cosplay yang berada di area abu-abu. Maksudnya mereka ini menggunakan karakter berlisensi, tapi mendapatkan keuntungan pribadi?

Kalau menurut saya pribadi ya, harusnya Marvel dan yang lain-lain itu melihatnya sebagai hal yang bagus. Kenapa bagus, karena itu adalah promosi gratis. Filmnya rilis, yang cosplay senang, yang datang ke premiere-nya senang, pengunjungnya juga senang ada hiburan.

[POP] Apakah berarti cosplay di Indonesia ini sudah diakui oleh pemilik lisensi di luar?

Kita sebenarnya memang bagus-bagus cosplay-nya. Dan event di sini setiap minggu ada, itu sebenarnya bisa menjadi informasi buat dunia luar. Let’s say i’m Marvel, melihat dunia cosplay di Indonesia begitu marak dan banyak yang cosplay-in karakter Marvel, itu membuktikan bahwa pasar di Indonesia itu bagus.

[POP] Jadi sebetulnya Cosplay di Indonesia sudah besar ya?

Benar itu. Di semua event. Event game ada cosplaynya, bahkan event musik saja ada cosplay-nya. Memang cosplay sudah diakui bisa membawa crowd yang banyak.

[POP] Cosplay itu identik dengan kita bikin kostum sendiri, kita perform sendiri. Tapi seperti yang Mas Ari bilang, sekarang ini besarnya peminat tidak didukung oleh skill. Ada yang kostumnya beli atau sewa. Jadi sekarang cosplay itu lebih ke arah perform, bukan pembuat. Menurut Mas Ari hal seperti itu bagaimana?

Kita harusnya balik lagi ke apa sih esensi cosplay. Cosplay kan salah satu lepasan dari dunia entertainment. Entertain artinya apa? Menghibur kan? Mau kamu itu beli, sewa, bahkan meminjam. Selama itu masih menghibur dirinya dan orang lain, bagi saya sah-sah saja.

Mungkin buat orang-orang sekarang yang suka nge-dramain, bilangnya wah yang ini ngga sah, yang itu ngga sah juga. Tapi bagi saya sih itu sah-sah saja. Termasuk saat seorang cosplayer Iron-Man viral di internet karena video joget-joget. Banyak cosplayer yang bully. Tapi banyak yang ngga tau kalau saat itu dia diminta oleh ibu-ibu yang merekamnya. Dari sisi entertain itu sah. Beda kalau dia dikontrak oleh Marvel. Kan tidak?

Tapi memang setiap cosplayer yang sudah tampil di tempat umum itu harus sudah siap dengan public demand. Kalau belum siap, mending foto-foto saja dulu di kamar atau photosession.

[POP] Misal ada orang yang cosplay sebagai karakter anime, lalu proporsi badan atau muka tidak mendekati dengan karakter tersebut. Jadi sah-sah saja ya?

Sah-sah saja, tapi seperti yang saya bilang tadi. Kalau sudah berani ke ranah publik, harus siap dipuji, dan siap di-bully. Masyarakat sekarang kalau kritik kan gahar. Jadi kalau memang mau ke ranah publik, harus siap dikomentar. Juri sebenarnya dalam dunia cosplay itu publik, bukan juri di event tersebut.

[POP] Bagaimana tanggapan mas Ari tentang Cosplay yang dibawa ngamen, atau demo tapi memakai kostum?

Ya, itu sempat rame juga. Bagi saya ya itu terserah dia. Kembali lagi kita ini kan di ranah entertain, menghibur orang-orang. Dan cosplayer itu juga berasal dari kalangan yang berbeda-beda. Banyak yang mampu, tapi juga ada yang tidak. Ada yang memang butuh uang. Jadi selama itu halal, lakukan saja. Tapi kalau untuk demo, apalagi yang mengarah ke politik, saya lebih baik tidak berkomentar.

[POP] Jadi Cosplayer yang berkualitas itu yang seperti apa?

Kalau yang berkualitas tinggi tentu saja kita harus lihat dari segala sisi. Dari ide awal yang dia punya, mencari gagasan, membuat kostumnya, dan terakhir perform. Itu semua membutuhkan skill. Namun untuk cosplayer sekarang, kalau kita menilainya harus sedalam itu kan sulit. Makanya POPCON ini sangat bagus membagi kategori cosplay jadi beberapa bagian. Ada yang perfom, ada juga yang maker. Jadi kalau misal ada yang bilang “Saya cosplayer baru, ngga bisa bikin,” ada wadahnya. Terserah mau kostumnya beli, nyewa, atau minjem, yang penting performnya bagus.

[POP] Jika harus memilih, Mas Ari lebih pilih yang jago perform atau yang jago bikin?

Opini orang-orang berbeda, mungkin ada juri yang bilang perform itu lebih penting. Kalau saya lebih ke maker, tapi tipis lah. 51:49 lebih ke arah maker. Tapi tetap perform itu penting, karena cosplay itu ada di bagian entertain.

[POP] Apakah cosplay ini sudah bisa menjadi profesi?

Bisa! Tapi syaratnya harus mau melebarkan sayap. Tingkatkan skill dan kualitas, karena dunia cosplay itu sebetulnya lebar banget.

[POP] Dari semua kostum yang pernah Mas Ari bikin, kostum mana yang paling sulit?

Ada kostum yang memang sulit karena teknisnya, ada yang sulit karena terkait profesi. Untuk yang teknisnya sulit ya T-Rex. Tapi kalau profesi ya seperti yang saya kerjakan untuk film yang akan datang ini. Karena saya berurusan dengan orang, harus sesuai dengan ekspektasi orang tersebut. Harus sesuai demand.

[POP] Kalau Cosplay kita dibandingkan dengan negara luar gimana Mas?

Beda negara beda budaya. Seperti Jepang itu lebih fokus kepada koreo. Sedangkan Amerika lebih ke arah skill maker cosplay. Nah kalau Indonesia soal kemampuan belum ya, ini secara keseluruhan. Maksud saya hanya ada beberapa yang kemampuannya sudah setingkat Amerika, tapi kan mayoritas belum. Seperti yang saya bilang, ini karena lambatnya regenerasi di Indonesia.

[POP] Lantas kita harus gimana, biar regenerasi dan peningkatan skill ini bisa berjalan?

Memang untuk mewujudkannya, ujung-ujungnya harus ada kursus untuk memberikan ilmu seperti itu. Impian saya memang dari dulu bisa membuat sekolah semacam “Stan Winston Indonesia.” Sejak 2009 saya mengajar kelas kostum dan desain, aplikasinya bisa ke cosplay dan film. Sayangnya mulai semester ini sudah dihapuskan kelasnya. Jadi bisa dibilang saat ini memang belum ada wadahnya.

[POP] Terkait Cosplay Challenge di POPCON, bagaimana Mas Ari melihat ada lomba Cosplay dengan todal hadiah 36 juta dan memiliki 4 kategori ini?

Saya sangat senang saat mendengar ada kategori costume maker. Karena dari dulu saya punya impian membuat event yang tidak hanya perform, tapi juga ada wadah untuk costume maker. Tapi ya itu ngga pernah kesampaian, makanya pas mendengar POPCON ingin membuat kategori tersebut, saya sangat mendukung.

[POP] Apa yang Mas Ari harapkan dari kategori ini?

Kualitasnya ingin seperti yang SDCC (San Diego Comic Con), ada robot dengan bahan hidrolik, dan lain-lainnya. Mampukah kita? Mampu! Belum dipancing aja maker-nya, karena itu kita pancing dengan hadiah.

[POP] Tapi kategori maker ini hanya terbatas pada 15 karakter Bumi Langit saja, apa Mas Ari yakin eksplorasinya bisa seluas itu?

Bisa, saya bahkan sangat menantikan kekreatifan mereka dalam membuat karakter tersebut. Memakai LED, atau nanti sayapnya bergerak sendiri, suatu hal yang di luar expektasi dari karakter tersebut adalah hal yang paling saya nantikan. Namun secara penampilan luarnya masih harus tetap seperti referensi karakternya, jangan sampai berbeda sekali.

[POP] Nah, sebagai juri, apa yang harus diperhatikan oleh para peserta biar bisa lolos dari penilaian Mas Ari?

Saya akan memperhatikan detail. Sampai skrup-skrup kecilnya, kalau ada, akan saya lihat. Kalau penampilan keseluruhan itu, pastinya ada penilaian untuk musik, koreo, dan yang lainnya, karena memang itu elemen yang harus ada dalam setiap penjurian. Tapi saya tidak pernah melupakan penilaian terbesar yang berasal dari penonton.

Cosplay itu ada untuk menghibur, cosplay is entertain. Mereka di panggung untuk menghibur penonton, bukan untuk juri. Juri hanya pelengkap di acara aja, penilaian tertinggi ada pada penonton. Yang paling bisa membuat penonton banyak bertepuk tangan, kemungkinannya besar untuk menang.

Sudah siap terima tantangan? Ayo daftar sekarang ke https://challenge.popconinc.com/

Copyright 2018 © Popcon Asia
Show Buttons
Hide Buttons